Dewi Sekardadu

Tempat Romantis - Masyarakat Gresik tentu tahu nama tokoh yang satu ini. Beliau adalah ibunda Sunan Giri. Dewi Sekardadu dilahirkan sekitar tahun 1421 di Blambangan (sekarang Banyuwangi). 

Ibunya adalah permaisuri raja Blambangan, Prabu Menak Sembuyu. Pada waktu lahirnya, kulit bayi Dewi Sekardadu tampak merah muda bak kembang mawar. 
Itulah sebabnya sang Prabu menamakan putri kesayangannya dengan Dewi Sekardadu yang berarti putri raja yang kulit tubuhnya berwarna merah muda.

Dewi Sekardadu

Pada sekitar tahun 1440, wilayah Kerajaan Blambangan dilanda "pagebluk" atau wabah penyakit menular. Banyak masyarakat kerajaan sakit keras dan tidak sedikit yang meninggal. Tak terkecuali sang Putri juga sakit keras. 

Dikerahkanlah oleh sang Prabu para dukun (dokter sekarang), paranormal, dan peramal untuk mengatasi wabah ini, termasuk menyembuhkan sakit sang Putri. 

Sekian bulan tidak ada hasilnya, akhirnya sang Prabu turun gunung bersama prajuritnya untuk mencari dukun di sekitar Blambangan. Bertemulah sang Prabu dengan seorang lelaki muda berkulit bersih sedang bersemedi (berkhalwat)  di sebuah pegunungan sunyi. 

Prabu :"Siapa kisanak sebenarnya dan perlu apa di Blambangan? "

Pemuda : (dengan takzim) "Hamba bernama (maulana) Ishak dari negeri seberang paduka. Hamba kesini hendak menyiarkan agama Islam."

Prabu :"Baik anak muda, aku akan ijinkan kamu meyiarkan agamamu, namun kamu harus terlebih dulu mengatasi pagebluk dan penyakit putriku. Kalau berhasil semua, kamu akan kukawinkan dengan putriku itu."

Pemuda :"Bismillah akan kucoba paduka. Paduka pulang dulu, aku akan mengatasi pagebluk ini, setelah itu mengobati sakit Tuan putri."

Prabu : "Baik kutunggu engkau di istana. "

Hanya beberapa hari kemudian, pegebluk mereda dan suasana menjadi normal. Kini, giliran maulana Ishak mengobati sakit sang Putri. 

Tiada berapa lama sang Putripun sembuh. Sesuai janji sang Prabu, kawinlah sang Putri dengan maulana Ishak. Dan kini, maulana Ishak dengan leluasa menyebarkan agama Islam di wilayah Blambangan. 

Sayang, keleluasaan dan kegembiraan sebagai pengantin baru diwarnai teror dari para dukun, paranormal, dan peramal, karena mereka kalah ilmunya dengan maulana Ishak. 

Merekapun menghasut sang Prabu dengan ramalan bualan bahwa tidak lama lagi, kerajaan akan mengalami pagebluk lebih buruk dari sebelumnya akibat adanya bayi yang ada dalam kandungan sang Putri. 

Merasa terancam jiwanya mulana Ishak secara diam-diam meninggalkan istrinya yang sedang hamil sekitar 5 bulan menuju Ampel lalu ke Peurlak, Aceh. 

Dengan berat hati ia tinggalkan istrinya dan menitip nama bayi Raden Paku bila bayinya laki-laki. Begitu usia 9 bulan lahirlah bayi Raden Paku yang elok nan bercahaya tahun 1443. Atas arahan dari dukun, peramal, dan paranormal bayi itu harus di buang ke laut. 

Dengan berat hati bayi yang tertidur pulas itu diambil sang Prabu dengan dalih beliau ingin menggendongnya. Tanpa curiga sang Putri melepaskannya. 

Namun, sang putri mulai resah, karena bayinya lama tak dikembalikan oleh ayahnya. Akhirnya, ia tahu kalau anaknya dihanyutkan ke laut dengan peti dengan alasan bayi itu akan membawa pagebluk. 

Seketika  sang Putri pingsang dan wafat saat itu juga, karena tak kuat menahan perasaannya. Selang beberapa hari muncullah wabah penyakit. Anehnya, wabah itu hanya menyerang dukun, paranormal, dan peramal yang membual hingga mereka mati. 

Melihat peristiwa itu sang Prabu mafhum dan sadar bahwa selama ini ia terlalu percaya mereka yang telah menipunya. Iapun berziarah ke makam putrinya sembari minta maaf, menyesal atas tindakannya. (Loemaksono - Persada) Kompleks Makam Dewi Sekardadu

Belum ada Komentar untuk "Dewi Sekardadu"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel